Kamis, 28 Mei 2015

PERAN PEMUDA INDONESIA DALAM MENGHADAPI TANTANGAN DAN PERSAINGAN DI ERA MEA


Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Kalimat itu begitu tak asing lagi di telinga kita. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dibentuk untuk merealisasikan integrasi ekonomi di kawasan Asia Tenggara, dimana MEA ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing dengan mengubah kelompok ekonomi menjadi pasar bebas dan basis produksi tunggal. Ada 5 hal dasar tujuan yang akan diimplementasikan dalam pasar terbuka MEA yaitu arus bebas barang, arus bebas jasa, arus bebas investasi,  arus bebas modal dan arus bebas tenaga kerja terampil . dengan adanya MEA ini, sudah bisa dipastikn akan terbuka lebar lapangan pekerjaan seluas-luasnya untuk warga ASEAN.  Mereka akan saling berkompetisi untuk mendapatkan pekerjaan. Mereka akan secara bebas keluar masuk dari satu negara ke Negara lain untuk mndapatkan pekerjaan tanpa adanya hambatan dari Negara yang dituju. Untuk menghadapi fenomena tersebut, tentulah diperlukan adanya kualitas dalam diri untuk mampu bersaing dengan warga Negara yang tergabung dalam MEA ini.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Sudah siapkah Indonesia menghadapi MEA atau dalam bahasa asingnya ASEAN Economic Community (AEC)? Bung Karno Berkata “Berikan Aku Sepuluh Pemuda, niscaya akan aku guncangkan dunia”. Kalimat tersebut seolah menjadi tolak ukur bahwa bangsa yang besar berada di tangan pemudanya. Bagaimanakah generasi muda Indonesia menjawab tantangan AEC? Pemuda adalah mereka yang berusia 18 hingga 35 tahun. Dimana dalam fase usia ini mereka berada dalam masa perkembangan biologis maupun psikologis. Oleh karenanya, pemuda selalu memiliki semangat yang membara dalam mengaspirasikan pendapat, inovasi dan kreatifitas-kreatifitasnya. Dengan adanya semangat yang membumbung tinggi serta inovasi dan kreatifitas-kreatifitasnya, maka sangatlah mungkin suatu bangsa akan lebih maju di tangan pemudanya.
 Untuk menjawab tantangan global di era ASEAN Economic Community (AEC) ini, generasi muda khususnya pemuda Indonesia harus memiliki hardskill dan softskill yang tinggi agar mampu bersaing tak hanya dengan warga indonesia saja namun juga dengan warga negara asing yang berpeluang memiliki karir di indonesia  . Hardskill dan softskill merupakan dua unsur yang saling berketerkaitan satu sama lain. dalam beberapa penelitian, hardskill dan softskill ini memiliki porsi masing-masing dalam menentukan kesuksesan seseorang. Dalam hal ini, softskill menempati porsi paling banyak yakni sekitar 80% dan sisanya 20 % adalah hardskill.karena, orang yang sukses adalah mereka yang tidak hanya ahli di bidang ilmu pengetahuan dan teknis (Hardskill) saja, namun lebih pada bagaimana mereka mampu mengelola diri sendiri dan orang lain (Softskill). Hardskill yaitu hal-hal yang berhubungan dengan penguaaan ilmu pengetahuan, teknologi, keterampilan yang berkaitan dengan bidangn keilmuan yang dipelajari. Sedangkan softskil adalah kemampuan sesorang dalam mengelola dirinya sendiri maupun orang lain. didalam softskill ini sendiri ada beberapa hal yang dikuasai oleh seseorang diantaranya kemampuan dalam berkomunikasi, membangun kerjasama yang baik, kemampuan memotivasi, leadership skill, kemampuan berkomunikasi didepan public dan juga kemampuan dalam mengontrol dirinya sendiri, bagaimana mereka mampu bertanggung jawab atas amanah yang diemban, berlaku adil, jujur, kemampuan memecahkan masalah dan masih banyak lagi. Dengan menguasai kedua skill tersebut pemuda akan berusaha mengembangkan diri mereka, menunjukan kinerja yang terbaik untuk menyongsong AEC.  
Kaitanya dengan adanya ASEAN Economic Community ini, generasi muda harus mampu mengembangkan potensi yang mereka miliki. Salah satu kemampuan yang harus dikembangkan adalah penguasaan dan kecakapan dalam berbahasa asing, terutama bahasa inggris yang merupakan bahasa internasional. Mengeapa diperlukan penguasaan bahasa asing? Karena dalam ASEAN Economic Community akan terjadi siklus pasar bebas dimana produk-produk maupun jasa dari Negara-negara yang tergabung dalam ASEAN Economic Community akan bebas keluar masuk ke Negara – Negara di kawasan Asia Tenggara. Tak hanya barang dan jasa saja yang bebas keluar masuk Negara – Negara yang tergabung dalam AEC, namun juga masalah ketenagakerjaan. Tenaga kerja dari Indonesia akan bebas keluar masuk ke Negara di kawasan Asia Tenggara begitupun tenaga kerja dari Negara di kawasan Asia Tenggara akan bebas keluar masuk ke Indonesia. Oleh sebab itu, sangatlah diperlukan kecakapan dalam berbahasa asing untuk menjalin komunikasi dan kerjasama yang baik.
Tak hanya kemampuan dalam berbahasa asing saja, pemuda juga dituntut untuk mampu menguasai berbagai bidang keilmuan serta pengaplikasianya kedalam kehidupan. Pemuda sebagai the Agents of Changes (agen perubahan) harus mampu membawa perubahan menuju indonesia yang lebih maju terutama dalam menghadapi AEC ini. Dengan semangat yang membara serta daya kreativitas  dan inovasi yang terus berkembang, maka sangat mungkin bagi Indonesia untuk siap menghadapi ASEAN Economic Community. Selain itu, ada satu hal lagi yang harus menjadi perhatian bagi pemuada Indonesia. Yakni Culture (Budaya). budaya yang dimaksudkan disini adalah budaya disiplin dan menghargai waktu. Jika kita melihat realita saat ini, waktu begitu mudah dipermainkan. Sering kali kita mengenal yang namanya jam karet. Tidak on time, waktu molor, secara otomatis hal tersebut akan mempengaruhi kinerja kita apalagi dalam kanca AEC ini, pemuda tidak hanya dituntut untuk bisa menguasai bidang keilmuan namun juga profesionalitas kerja yang tinggi. Maka, transformasi budaya sangat diperlukan yakni budaya Indonesia yang lebih disiplin dan professional. Dengan deminikan, Indonesia akan lebih siap menghadapi tantangan global di era Masyarakat Ekonomi ASEAN serta mampu bersaing dengan pesaing dari luar.

Sejauh ini, pemerintah sudah banyak ikut andil dalam memfasilitasi aspirasi pemuda Indonesia. Terutama dikalangan mahasiswa, pmerintah menggagas program-program yang mampu menstimulus para generasi pemuda untuk berpikir creative dan innovative. Salah satu program-program tersebut diantaranya ada PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa) dan PMW (Program Mahasiswa Wirausaha). PKM sendiri merupakan salah satu upaya pemerintah khususnya dari direktorat perguruan tinggi (DIKTI) untuk meningkatkan mutu para pemuda indonesia khususnya mahasiswa. PKM dikembangkan untuk mengantarkan mahasiswa yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan secara akademik saja, namun juga mampu mengimplementasikan ilmu pengetahuan dengan ide-ide yang kreativitas dan inovatif dalam rangka mempersiapkan diri agar mampu bersaing di era masyarakat ekonomi asean ini dimana para pemuda dituntut untuk creative dan inovatif agar tidak tertinggal oleh pesaing-pesaing dari Negara lain. sedangkan untuk PMW (Program Mahasiswa Wirausaha) sendiri bertujuan untuk memberikan bekal ilmu pengetahuan, keterampilan dan jiwa wirausaha serta mengubah mindset para mahasiswa dari pencari kerja (Job seeker) menjadi pencipta lapangan pekerjaan (Job Creator) serta menjadi calon pengusaha yang tangguh dan sukses dalam menghadapi persaingan global. masih banyak lagi program pemerintah yang mampu mendorong kreatifitas mahasiswa demi kesiapan Indonesia menghadapi AEC. Dengan adanya program-program tersebut maka mahasiswa akan saling berkompetisi menunjukan kreativitas terbaik mereka sehingga kemdian dapat menjadi bekal untuk menghadapi Economic Asean Community.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar