Kamis, 04 Februari 2016

AWAL SEMESTER

13 September 2015, dua minggu sudah keberadaanku di malang setalah kepulanganku dari cilacap. Seperti yang kubanyangkan sebelumnya, aku akan memadatkan kekgiatanku selagi di malang ini. Lebih tepatnya membuat hari hariku menjadi lebih bermanfaat. Yahh sudah kuraskan beberapa hari ini memang. Minggu pertama perkuliahan masuk, akau tengah disibukan dengan kesibukan baruku. Mulai dari pendampingan mahasiswa difable, bimbingan belajar privat, pun dengan kegiatan pesantren, belum lagi aktifitas perkuliahan dan bimbingan laporan dengan dosen malah belum terjamah sama sekali. Aku mencoba menikmatinya… yaa meskipun weekend ini aku merasa sangat useless karena tak ada kegiatan berarti yang ku lakukan.
Menjadi volunteer untuk mahasiswa difable memang pilihanku, mengapa? Karena memang aku sempat berfikir bagaimana mereka bisa menyelesaikan  urusan perkuliahan mereka dengan keterbatasan nyata yang mereka punya? Dari situ aku berempati untuk terjun menjadi volunteer mahasiswa penyandang difable. PSLD (Pusat Studi Layanan Disabilitas). Sebuah lembaga yang melayani mahasiswa difabel di Universitas Brawijaya.
Hari pertama Pendampingan aku mendampingi seorang mahasiswa baru berasal dari blitar. Dia seorang tuna daksa, mngkin hanya perkara menulis cepat saja kelemahnya, dan berbicara yang kurang jelas pula. Sehingga perlu didampingi saat melaksanakan aktiviitas perkuliahan Aku masih mudah mengendalikan dan mendampinginya.
Di hari keduaku, aku harus mendampingi mahasiswa dari fakultas hukum. Aku kira dia mahasiwa baru yang belum tahu apa-apa soal kampus,setelah ditelisik, ternyata dia angkatan “tua” yang memang ada berbagai factor yang menyebabkan kuliahnya belum terselsaikan hingga saat ini. Dan perlu diketahui juga, keterbatasan penglihatan yang ia derita ternyata berasal dari musibah kecelakaan yang dia alami pada saat kuliah semester tiga di tahun sebelumnya. Tak hanya dia. Di kantor pusat PSLD aku juga bertemu dnegan mahasiswa tuna naetra lainya. Dia bernama afif, kalau yang ini memang benar2 mahasiswa baru. Dia berasala dari kota solo jawa tengah, di tengah2 keterbatasan yang ia punya, dia memiliki bakat terpendam  yakni ia pandai bermusik,terlebih alat music drum. Dalam waktu dekat ini juga dia akan mengikuti kontes di Surabaya ungkapnya kala itu.
Dihari ketigaku mendampingi mable (hasaiswa difable), semakin menantang. Kali ini aku mendampingi dua mahasiswa tunarungu di jurusan management informatika vokasi. Karena bahasa isyaratku masih sangat minus, aku sempat kebingungan ketika harus mendampngi mereka. Apa yang dijelaskan oleh sang dosen harus aku transfer kepada mereka dengan bahasa isyarat yang memang belum spenuhnya aku kuasai.  Dihari itu juga sang dosen meminta para mahasiswa untuk pretest. Terang saja, mahasiswa yang ku damping hari itu adalah semester 3, jadi wajar saja jika pelajaran semsetr lalu diulang kembali dengan pretest. Terkesan sulit memang untuk mentransfer bahasa yang disampaikan dosen kepada mereka, tapi setelah ditelateni, semua all is well.
Dihari keempat jauh lebih menantang. Sekilas mahasiswi ini tak jauh beda dengan mahasiswa-mahasiswa lainya. Dia tampak normal dan sejenak aku berfikir kenapa dia harus didampingi? Sepertinya dia baik-baik saja? Dan waktupun menjawab. Tiba didalam kelas dan perkuliahan dimulai. Disitu aku baru tahu, mengapa butuh pendamping? Autis. dia sulit mengendalikan dirinya sendiri, suka aktif sendiri, berpendapat namun apa yang dia lontarkan sulit dimengerti orang lain dan bahkan bisa dibilang gak nyambung . bisa jadi malah dia menjadi bahan tertwaan teman2 sekelasnya. Tugasku menenangkan dia ketika dia akan bertindak di luar jalur yang seharusnya. Agak harus berhati hati memang, karena orang yang menderita autis terkadang sangat sensitive perasaanya. Mungkin di hari-hari berikutnya akan lebih banyak cerita

Yaah begitulah awal semester 7 yang penuh warna… semoga pengalaman2 kecil itu bisa membuatku lebih banyak bersyukur dan membuat hari2ku lebih bermanfaat lagi J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar