Selasa, 29 Desember 2015

SEBLAK

Seblak..
Makanan khas dari bandung ini mulai tak asing lagi ditelinga masyarakat. Tak hanya masyarakat jawa barat khususnya bandung, makanan yang berbahan dasar kerupuk ini juga sudah mulai popular di jawa tengah dan jawa timur. Jika biasanya seblak hanya dengan berbahan dasar kerupuk udang/ikan, di Malang Jawa Timur,  sekelompok mahasiswa membuat inovasi rasa baru yakni seblak rumput laut.  Mau tau cara buatnya? Yuuk intip ke dapur.
Bahan yang perlu disiapkan adalah
·         Kerupuk udang atau ikan
·         2 siung Bawang merah
·         1 siung Bawang putih  suing
·         Kencur
·         Jahe
·         Telur
·         Sawi
·         Saos
·         Kecap
·         Rumput laut
Cara Membuatnya
§  Pertama-tama rendam kerupuk dan rumput laut terlebih dahulu kurang lebih 10 menit menggunakan air panas
§  haluskan bumbu utama yakni bawang merah, bawang putih, kencur dan jahe.
§  Setelah bumbu halus, masukkan bumbu ke dalam minyak yang sudah dipanaskan diatas penggorengan.
§  Setelah tercium aroma bumbu, tambahkan sedikit air dan tambahkan gula dan garam secukupnya.
§  Tunggu hingga air kuah mendidih
§  Masukkan telur dan sawi  tunggu hingga setengah matang
§  Masukan kerupuk dan rumput laut yang telah direndam tadi
§  Tambahkan saos dan kecap secukupnya
§  Sebalak siap diangkat dan disajikan



Untuk memperkaya rasa, seblak juga bisa ditambahkan bakso atau sosis sesuai selera.  Makanan ini sangat cocok disantap saat santai bersama keluarga maupun teman-teman. Meskipun tergolong makanan ringan, namun seblak ini cukup mengenyangkan dan bisa disajikan sebagai santapan penunda lapar. Selamat Mencoba J  

Sabtu, 07 November 2015

TRADISIS LOMBAN DALAM MENJAGA KEARIFAN LOKAL BUDAYA JEPARA

MAKALAH SOSIOLOGI PEDESAAN
MENGENAL KEARIFAN LOKAL BUDAYA JEPARA


OLEH
Nama : Rina Ainun Nadlifah
Nim     : 125080201111005
Kelas   : P3

Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Brawijaya
2014


BAB 1
PENDAHULUAN
1.      Pengertian Kearifan Lokal
kearifan lokal (local wisdom) terdiri dari dua kata: kearifan (wisdom) dan lokal (local). Dalam Kamus Inggris Indonesia John M. Echols dan Hassan Syadily, local berarti setempat, sedangkan wisdom (kearifan) sama dengan kebijaksanaan. Secara umum maka local wisdom (kearifan setempat) dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya.
I Ketut Gobyah thiam “Berpijak pada Kearifan Lokal”  mengatakan bahwa kearifan lokal (local genius) adalah kebenaran yang telah mentradisi atau ajeg dalam suatu daerah. Kearifan lokal merupakan perpaduan antara nilai-nilai suci firman Tuhan dan berbagai nilai yang ada. Kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan budaya masyarakat setempat maupun kondisi geografis dalam arti luas. Kerifan lokal merupakan produk budaya masa lalu yang patut secara terus-menerus dijadikan pegangan hidup. Meskipun nilai lokal tetapi nilai yang terkandung di dalamnya dianggap sangat universal.
Nama Jepara berasal dari kata ‘ujung’ dan ‘para’. Kata Para adalah kependekan dari ‘pepara’ yang berarti bebakulan mrana-mrana, yaitu berdagang kesana-kemari. Sementara itu Lekkerkerker menyebut Jepara dengan haventjes der klein handelaars artinya pelabuhan para pedagang kecil. Panitia Penyusunan Hari Jadi Jepara mengatakan bahwa pada umumnya kota-kota yang terletak di tepi pantai biasanya menggunakan kata ‘ujung’ seperti ‘Ujung Sawat’, ‘Ujung Gat’, ‘Ujung Kalirang’, ‘Ujung Jati’, ‘Ujung Lumajang’, dan ‘Ujung Blidang’ sehingga kata Jepara berasal dari kata ujung para, ujungmara atau jumpara. 
Jepara yang terletak di Pesisir pantai utara pulau Jawa mayoritas masyarakatnya berpencaharian sebagai nelayan selain sebagai pengrajin seni ukir (mebel). Sebagai masyarakat yang berada di pesisir pantai mereka memiliki kearifan khusus dalam kaitannya dengan kehidupan di lingkungan sekitarnya.


2.      TUJUAN
a)      Mengetahui Kerajinan Lokal Jepara
b)      Mengetahui Kepercayaan Masyarakat Jepara
c)    Mengetahui Tradisi Upacara Lomban
































BAB II
PEMBAHASAN
1.            Kepercayaan Masyarakat

Mengenai hubungan manusia dengan lingkungan alam sekitarnya ada kebudayaan-kebudayan yang memandang alam itu sebagai suatu hal yang sangat dahsyat sehingga manusia itu pada hakekatnya hanya bisa menyerah saja tanpa ada banyak yang bisa diusahakannya. Sebaliknya ada pula kebudayaan yang memandang alam itu sebagai suatu hal yang bisa dilawan oleh manusia dan mewajibkan manusia untuk selalu berusaha menaklukkan alam, disamping itu ada pula kebudayaan yang menganggap bahwa manusia itu hanya bisa berusaha mencari keselarasan dengan alam . Sehingga manusia bebas berinteraksi dan mengolah alam.
           Masyarakat nelayan di Jepara percaya bahwa kehidupan di muka bumi ini diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dan mereka juga percaya bahwa hidup itu ada yang menghidupkan dan ada yang menghidupi. Kepercayaan tersebut menjadi dasar kendali dalam menjalani kehidupan sehari-hari yang diungkapkan dalam bentuk kepercayaan tentang sesuatu, adat, nilai, dan upacara-upacara serta perayaan tertentu. 
Selain percaya pada Tuhan Yang Maha Esa masyarakat nelayan juga percaya kalau disekitar tempat tinggal mereka terdapat makhluk halus atau makhluk penunggu atau ‘sing mbaurekso’ yang sewaktu-waktu dapat mengganggu kehidupan manusia misalnya mengganggu ketentraman, mendatangkan bencana, namun sebaliknya bisa juga memberikan ketenangan, perlindungan dan keselamatan dalam kehidupan manusia. Mereka percaya akan adanya kekuatan-kekuatan alam yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia. Mereka mengenal tanda-tanda alam baik yang berupa tanda-tanda kebaikan maupun tanda-tanda keburukan. Tanda-tanda alam yang dikenal dalam kehidupan nelayan antara lain:
a)      Jika di langit ada tanda kehitam-hitaman (mendung tebal) yang datang dari arah barat serta ada guruh yang menggelegar atau kilat yang menyambar maka itu sebagai pertanda akan datang gelombang yang besar atau badai yang dahsyat. Sehingga tidak seorang nelayan pun yang berani melaut, bahkan yang sudah terlanjur di tengah laut supaya cepat-cepat menepi. Keadaan seperti ini menyadarkan manusia khususnya para nelayan bahwa pada saat-saat tertentu alam memiliki kekuatan yang tidak bisa dilawan oleh manusia.
b)      Apabila akan melaut, jika tidurnya mengalami mimpi buruk maka harus terlebih dahulu diadakan selamatan, karena kalau tidak konon mimpi buruk tersebut akan menjadi kenyataan.
c)       Apabila akan melaut tidak boleh dalam keadaan marah., baik kepada keluarga maupun orang lain. Konon jika melaut dalam keadaan marah mereka akan jauh dari rezeki sehingga tidak dapat ikan tangkapan.
d)      Apabila sedang berada di tengah laut nelayan tidak boleh mengatakan kata-kata kotor. Konon jika hal itu dilakukan nelayan itu akan mengalami kesulitan dalam mencari rezeki dan bisa mendatangkan musibah.
e)       Apabila dalam melaut seorang nelayan menangkap ikan Pendong yaitu ikan yang dilarang untuk ditangkap, maka ikan tersebut harus segera dilepaskan kembali ke laut dan sepulangnya dari laut harus segera menyelenggarakan selamatan khusus agar terhindar dari malapetaka sebagai akibat tertangkapnya ikan larangan tersebut.
Dengan adanya kepercayaan-kepercayaan para nelayan tersebut maka maka para nelayan di Jepara mengadakan upacara-upacara ritual baik yang bersifat massal maupun pribadi. Dalam upacara-upacara ritual ini diadakan sesaji dan doa magis yang ditujukan pada makhluk yang mendiami alam sana (laut) , sebagai upaya agar hidup mereka diliputi suasana tenang selamat dan dijauhkan dari mara bahaya. Kegiatan upacara ritual yang berhubungan dengan masyarakat nelayan di Jepara antara lain sedekah laut, ceblok branjang, selamatan untuk perahu baru atau penurunan perahu pertama kali ke laut dan upacara kupatan.

2.      Pesta Lomban
Pesta lomban oleh masyarakat Jepara sering pula disebut sebagai “ Bakda / Bada Lomban “ atau Bakda / Bada Kupat . Disebut “ Bakda Kupat “ karena pada saat itu masyarakat Jepara merayakannya dengan memasak kupat (ketupat) dan lepet disertai rangkaian masakan lain seperti : opor ayam, rendang daging, sambal goreng, oseng-oseng dan lain-lain. Istilah Lomban oleh sebagian masyarakat Jepara disebutkan dari kata “Lomba-lomba” yang berarti masyarakat nelayan masa itu bersenang-senang melaksanakan lomba-lomba laut yang seperti sekarang masih dilaksanakan setiap pesta Lomban, namun ada sebagian mengatakan bahwa kata-kata lomban berasal dari kata “Lelumban” atau bersenang-senang. 
Pesta Lomban masa kini dilaksanakan oleh warga masyarakat nelayan Jepara bahkan  dalam perkembangannya sudah menjadi milik warga masyarakat Jepara. Malam hari sebelum acara pesta Lomban berlangsung, biasanya diadakan pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Pesta Lomban dimulai sejak pukul 06.00 WIB dimulai dengan upacara Pelepasan Sesaji dari TPI Jobokuto. Upacara ini dipimpin oleh pemuka agama desa Jobokuto dan dihadiri oleh Bapak Bupati Jepara dan para pejabat Kabupaten lainnya. Sesaji itu berupa Kepala Kambing hitam (kendit) atau Kepala Kerbau, kaki, kulit dan jerohannya dibungkus dengan kain mori putih. Sesaji lainnya berisi sepasang Kupat dan Lepet, bubur merah putih, jajan pasar, arang-arang kambong (beras digoreng), nasi yang diatasnya ditutupi ikan, jajan pasar, ayam dekeman (ingkung), dan kembang boreh/setaman. Semua sesaji diletakkan dalam sebuah ancak yang telah disiapkan sebelumnya. Setelah dilepas dengan do’a sesaji ini di”larung” ke tengah lautan, pembawa sesaji dilakukan oleh sejumlah rombongan yang telah ditunjuk oleh pinisepuh nelayan setempat dan diikuti oleh keluarga nelayan, semua pemilik perahu, dan aparat setempat.
Gambar 1. Arak arakan sesaji yang mau di larung ke laut

setelah sesaji dilepas, beberapa perahu nelayan berebut mendapatkan air dari sesaji itu yang kemudian disiramkan ke kapal mereka dengan keyakinan kapal tersebut akan mendapatkan banyak berkah dalam mencari ikan. Ketika berebut sesaji ini juga dimeriahkan dengan tradisi perang ketupat dimana antar perahu yang berebut saling melempar dengan menggunakan ketupat. Selanjutnya dengan disaksikan ribuan pengunjung Pesta Lomban acara “Perang Teluk” berlangsung ribuan kupat, lepet, kolang kaling, telur-telur busuk berhamburan mengenai sasaran dari perahu ke perahu yang lain. “Perang Teluk” usai setelah Bupati Jepara beserta rombongan merapat ke Pantai Kartini dan mendarat di dermaga guna beristirahat dan makan bekal yang telah dibawa dari rumah. Di sini para peserta pesta Lomban dihibur dengan tarian tradisional Gambyong dan Langen Beken dan lain sebagainya. Maksud dari upacara pelarungan ini adalah sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Allah SWT, yang melimpahkan rezeki dan keselamatan kepada warga masyarakat nelayan selama setahun dan berharap pula berkah dan hidayahNya untuk masa depan. Selain itu pelarungan ditujukan sebagai salah satu bentuk rasa hormat kepada Yang Maha Penguasa ‘sing mbaurekso’ sebagai ruh para leluhur yang mereka percaya dapat menjaga dan melindunginya dari segala ancaman marabahaya dan mala petaka.  Tradisi upacara yang masih bertahan dapat memberi gambaran bahwa masyarakat nelayan masih memegang teguh adat istiadat yang diwarisi secara turun-temurun. Kepercayaan terhadap leluhur, roh halus merupakan manifestasi keteguhan hati yang masih mengakar pada diri nelayan Jepara dalam hal nguri-uri kebudayaan leluhurnya.










Gambar 2. Perang Teluk
Pesta Lomban ini merupakan puncak acara dari Pekan Syawalan yang diselenggarakan pada tanggal 8 syawal atau 1 (satu) minggu setelah hari raya Idul Fitri. Pesta Lomban ini sendiri telah berlangsung lebih dari 1 (satu) abad yang lampau. Pulau Kelor sekarang adalah komplek Pantai Kartini atau taman rekreasi Pantai Kartini yang dulunya masih terpisah dengan daratan di Jepara. Karena pendangkalan dan diurug masyarakat, maka lama kelamaan antara Pulau Kelor dan daratan Jepara menyatu. Pulau Kelor (sekarang Pantai Kartini) dahulu pernah menjadi kediaman seorang Melayu bernama Encik Lanang, pulau ini dipinjamkan oleh Pemerintah Hindia Belanda kepada Encik Lanang atas jasanya dalam membantu Hindia Belanda dalam perang di Bali. Seusai pertempuran para peserta Pesta Lomban bersama-sama mendarat ke Pulau Kelor untuk makan bekalnya masing-masing. Selain pesta-pesta tersebut, para nelayan peserta Pesta Lomban tak lupa lebih dahulu berziarah ke makam Encik Lanang yang dimakamkan di Pulau Kelor tersebut.

3.      Jepara Kota Ukir
Selain dikenal sebagai kota kelahiran RA. Kartini, Jepara juga terkenal dengan seni ukiran kayunya. Di sepanjang jalan menuju kota banyak dijumpai pengrajin meubel dan ukir jepara.  ini membuktikan bahwa, jepara dengan mebelnya sudah melekat dan mengatu dengan mobilisasi masyrakatnya, bahkan di sisi mata pencaharian, banyak sekali masyarakat jepara yang bekerja berhubungan dengan mebel dan ukir jepara.
seni ukir jepara sendiri berkembang pesat karena masyarakatnya memanfaatkan budaya ini sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan kesehariannya, awal mula munculnya ukir jeparapun banyak yang menafsirkan berbeda-beda.
singkat cerita zaman dahulu kala ada seorang pengukir dan pelukis  di zaman Raja Brawijaya dari Kerajaan Majapahit, Jawa Timur. Salah seorang Pengukir itu bernama Prabangkara atau dikenal dengan sebutan Joko Sungging. Dan pada saat itu Raja Brawijaya ingin memiliki lukisan istrinya dalam keadaan telanjang tanpa busana sebagai wujud rasa cinta sang raja.
Dipanggillah ahli ukir dan lukis Prabangkara itu untuk mewujudkan keinginan Raja Brawijaya. Prabangkara mendapatkan tugas yang mustahil dilakukan yaitu melukis istri sang raja dalam keadaan tanpa busana tetapi dia tidak boleh melihat permaisuri dalam keadaan tanpa busana. Tentunya Prabangkara harus melukis menggunakan imajinasi saja. Dan akhirnya Prabangkara melaksanakan tugas tersebut, dan selesai tugasnya dengan sempurna.
Tiba-tiba saja ada seekor cicak buang tinja dan mengenai lukisan permaisuri tersebut. Sehingga lukisan permaisuri tersebut punya tahi lalat. Raja gembira dengan hasil karya Prabangkara tersebut. Dilihatnya dengan detail gambar lukisan tersebut. Dan begitu dia melihat tahi lalat, raja murka. Dia menuduh Prabangkara melihat langsung permaisuri tanpa busana. Karena lokasi tahi lalat persis seperti kenyataan.
Raja Brawijaya pun cemburu dan menghukum pelukis Prabangkara dengan mengikatnya di layang-layang, kemudian menerbangkannya. Layang-layang itu terbang hingga ke Belakang Gunung di Jepara dan mendarat di Belakang Gunung itu. Belakang Gunung itu kini bernama Mulyoharjo di Jepara. Kemudian Prabangkara mengajarkan ilmu mengukir kepada warga Jepara pada waktu itu dan kemahiran ukir warga Jepara bertahan dan lestari hingga sekarang.
Hingga saat ini masyarakat jepara masih melestarikan budaya seni ukir kayu di samping di manfaatkan masyarakat jepara sebagai mata pencahariaan mereka. Ukiran jepara tak hanya dikenal oleh masyarakat local namun karya-karya indah seni ukir jepara juga terkenal hingga mancanegara.  
4.      Potensi Wisata Karimunjawa
Kawasan yang jaraknya sekitar 85 km dari kota Jepara ini memiliki luas wilayah kurang lebih 107.225 ha, yang sebagian besarnya terdiri dari lautan yang luasnya 100.105 ha, dan daratnya sekitar 7.120 ha. Kawasan ini merupakan salah satu dari 16 kecamatan di Jepara.
Karimunjawa menyediakan panorama alam yang begitu indah dan menyejukan mata. Mulai dari hamparan hutan mangrove, sisa hutan tropis khas dataran rendah, pegunungan dan hamparan alamyang masih terjaga kealamianya. Serta terumbu karang, padang lamun dan biota lautnya yang bermacam macam merupkaan salah satu kekayaan dari wilayah ini. Sejak tahun 1988, karimunjawa ditetapkan sebagai taman nasional sampai sekarang. Karena di wilayah ini hidup berbagai tanaman dan binatang. Diantara tmbuhanya yaitu hutan mangrove, hutan dataran rendah, terumbu karang dan hutan- hutan pantai, populasi kera ekor panjang, rusa dan sekitar tiga ratus lia puluh tiga jenis ikan karang dan enam puluh Sembilan marga karang keras. Hal ini lah yang menjadikan karimunjawa wajib untuk di kunjjungi. Banyak kegiatan wisata yang di tawarkan disni. Diantaranya snorkeling, dengan kegiatan ini kita dapat menyaksikan bawah laut kariunjawa yang memang memiliki air yang jernih, selain itu kita juga dapat melakukan diving jika kita masih ingin berlama lama di sini. Di sisi lain kita dapat meliat bagaimana par penduduk karimunjawa yang membududayakan ikan hiu yang kita kenal sebagai ikan karnivora yang ganas. Dan menyeramkan. Disni kita dapat langsung bercengkama dengan ikan hiu hasil budidaya.
            kearifan budaya local serta keramahan penduduk karimunjawa juga menjadi salah satu daya tarik wisatawan untuk mengunjungi kawasan ini. Penduduknya yang terdiri dari suku bebeda. Ada suku bugis, Madura,, dan tentunya jawa. Mereka hidup berdampingan dengan rukun. Sebagian dari mereka berprofesi sebagai nelayan.disisi lain, masayarakat bugis yang terkenal dengan tenun sarungnya jua tak mau kalah ambil bagian dalam perekonoian masyarakat karimunjawa.  Sama halnya dengan masyarakat bugis, masyarakat Madura jugaemiliki kemampuan untuk membuat ikan kering sebagai industry rumahnya. Mereka tingal dan menetap di pulau karimunjawa yang merupakan pulau terbesar. Di pulau ini, ketika senja telah tiba maka dermaga menjadi tempat yang sangat di faforitkan untuk melihat keindahan langit senja karimunjawa.

Gambar 3. Taman Nasional Krimunjawa
Di karimunjawajawa juga menyimpan legenda di dalamnya. Menurut masyarakat karimunjawa, nama karimun sangat berkaitan dengan sunan nyamplung, nama aslinya syech Amir hasan. Beliau ini adalah salah seoran putra dari sunan muria. Sejak kecil beliau di manja, sehingga ketika dewasa belia cenderung nakal. Berbagai cara telah dilakukan sang ayah, namun selalu saja gagal. Dengan berharap agar ankanya bisa menjadi lebih baik, sunan muria menitipkan anaknya kepada sunan kudus. Di bawah bimbinganya, sikap syech amir berubah menjadi sosok yang baik dan taat.merasa telah berhasil, sunan kudus mengembalikanya kepada keluarga. Namun ketika sudah bersama keluarganya, Amir hasan kembali seperti semula. Meliat kelakuan anaknya, sunan muria merasa prihain dan meminta anaknya untuk mengamalkan ilmunya di pulau yang Nampak “kremun-kremun” (bahasa jawa) atau tidak jelas bila dilihat dari muria. Dan sang ayah melarangnya kembali sebelum tugasnya selesai. Berbekal dua buah biji nyamplung yang akan di tana disana, serta sebuah mustika majid namnya yang sampai saat ini masih ada di kompleks makamsunan nyamplungan, serta dua orang teman, akhirnya iapun mulai melakukan perjalananya dan sampailah di tempat yang diharapkanya itu. Setelah irudia menanamkan dua buah biji yang di bawanya itu. Dan tanaman dari buah biji itula yang kini disebut sebagai pohon nyamplung dan daerahnya di sebut dukuh nyamplung.


BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan
Kerifan local (local wisdom) adalah suatu kekayaan budaya yang dimiliki oleh suatu daerah yang sudah ada pendahulunya dan sampai sekarang masih dilestarikan dengan bijaksana. Kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan budaya masyarakat setempat maupun kondisi geografis dalam arti luas. Kerifan lokal merupakan produk budaya masa lalu yang patut secara terus-menerus dijadikan pegangan hidup.
Jepara. Sebuah kota di utara pulau jawa yang menyimpan kerifan local yang sampai saat ini masi dilestarikan oleh masyarakatnya. Mulai dari kepercayaan masyarakatnya yang mampu membaca alam ketika akan melakukan pekerjaan, tradisi pesta lomban yang sarat akan makna budaya dan agama, tradisi ini diadakan seminggu pasca hari raya Idul Fitri untuk mengenang tokoh leluhur bernama “Encik Lanang”  yang mengawali tradisi tersebut.
Kota Jepara memiliki satu kerajinan khas yang terkenal hingga mancanegara yaitu kerajinan ukir kayu. Kerajinan inipun tak luput dari sejarah penggagasnya. Tak hanya bernilai seni budaya saja, seni ukir jepara juga mampu menjadi penopang sector ekonomi khususnya bagi masyarakat jepara. Selain itu, Jepara juga memiliki potensi wisata alam karimunjawa yang diminati baik wisatawan local maupun mancanegara. .

2.      Saran
sebagai generasi muda, tentunya kita harus ikut serta melestarikan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan local yang ada dalam suatu daerah. Khususnya bagi penulis yang merupakan darah asli dari kota ukir jepara agar mampu ikut serta dalam  melestarikan budaya sehingga kebudayaan tersebut tidak luntur sampai anak cucu kelak dan dapat  dikenal masyarakat luas sebagai daerah yang beridentitas.




DAFTAR PUSTAKA
http://blog.kampungmebel.com/sejarah-seni-ukir-jepara. diakses pada tanggal 12 oktober 2014
http//roni’blog.blogspot.com/Taman-nasional-karimunjawa-kabupaten-jepara. Diakses pada tanggal 17 oktober 2014


Selasa, 29 September 2015

GALAU MAHASISWA TINGKAT AKHIR

Di suatu minggu sore, tak sengaja kudapati seorang pemuda yang tengah berjalan menuju ruang skripsi sebuah perpustakaan dengan beberpa buah laporan skripsi tahunan ditanganya. Pemuda itu melintas seraya berkata  “Aku harus semangattt... besok mau ACC”  untaiaan kata semangat yang terlontar dari mulutnya didukung dengan kepalan tangan yang mengayun kedepan seperti orang mau berkelahi.  Setelah kembali dari ruang skripsi, pemuda itu kembali melintas dihadapanku. Kali ini dia melintas dengan tangan kosong. Namun tidak dengan isi kepalanya. Sembari berjalan dia terus mengucapkan kalimat-kalimat yang sepertinya seputar penelitianya. Mungkin karena terlalu semangat atau bahkan karena terlalu stress memikirkan skripsi yang tak kunjung usai? Yaah begitulah.. mungkin ini yang disebut dengan galau mahasiswa tingkat ahir. Disaat MABA (mahasiswa baru) bangga dengan kampus barunya, mahasiswa lama sedang berperang dengan skripsinya. 

Kamis, 28 Mei 2015

PERAN PEMUDA INDONESIA DALAM MENGHADAPI TANTANGAN DAN PERSAINGAN DI ERA MEA


Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Kalimat itu begitu tak asing lagi di telinga kita. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dibentuk untuk merealisasikan integrasi ekonomi di kawasan Asia Tenggara, dimana MEA ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing dengan mengubah kelompok ekonomi menjadi pasar bebas dan basis produksi tunggal. Ada 5 hal dasar tujuan yang akan diimplementasikan dalam pasar terbuka MEA yaitu arus bebas barang, arus bebas jasa, arus bebas investasi,  arus bebas modal dan arus bebas tenaga kerja terampil . dengan adanya MEA ini, sudah bisa dipastikn akan terbuka lebar lapangan pekerjaan seluas-luasnya untuk warga ASEAN.  Mereka akan saling berkompetisi untuk mendapatkan pekerjaan. Mereka akan secara bebas keluar masuk dari satu negara ke Negara lain untuk mndapatkan pekerjaan tanpa adanya hambatan dari Negara yang dituju. Untuk menghadapi fenomena tersebut, tentulah diperlukan adanya kualitas dalam diri untuk mampu bersaing dengan warga Negara yang tergabung dalam MEA ini.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Sudah siapkah Indonesia menghadapi MEA atau dalam bahasa asingnya ASEAN Economic Community (AEC)? Bung Karno Berkata “Berikan Aku Sepuluh Pemuda, niscaya akan aku guncangkan dunia”. Kalimat tersebut seolah menjadi tolak ukur bahwa bangsa yang besar berada di tangan pemudanya. Bagaimanakah generasi muda Indonesia menjawab tantangan AEC? Pemuda adalah mereka yang berusia 18 hingga 35 tahun. Dimana dalam fase usia ini mereka berada dalam masa perkembangan biologis maupun psikologis. Oleh karenanya, pemuda selalu memiliki semangat yang membara dalam mengaspirasikan pendapat, inovasi dan kreatifitas-kreatifitasnya. Dengan adanya semangat yang membumbung tinggi serta inovasi dan kreatifitas-kreatifitasnya, maka sangatlah mungkin suatu bangsa akan lebih maju di tangan pemudanya.
 Untuk menjawab tantangan global di era ASEAN Economic Community (AEC) ini, generasi muda khususnya pemuda Indonesia harus memiliki hardskill dan softskill yang tinggi agar mampu bersaing tak hanya dengan warga indonesia saja namun juga dengan warga negara asing yang berpeluang memiliki karir di indonesia  . Hardskill dan softskill merupakan dua unsur yang saling berketerkaitan satu sama lain. dalam beberapa penelitian, hardskill dan softskill ini memiliki porsi masing-masing dalam menentukan kesuksesan seseorang. Dalam hal ini, softskill menempati porsi paling banyak yakni sekitar 80% dan sisanya 20 % adalah hardskill.karena, orang yang sukses adalah mereka yang tidak hanya ahli di bidang ilmu pengetahuan dan teknis (Hardskill) saja, namun lebih pada bagaimana mereka mampu mengelola diri sendiri dan orang lain (Softskill). Hardskill yaitu hal-hal yang berhubungan dengan penguaaan ilmu pengetahuan, teknologi, keterampilan yang berkaitan dengan bidangn keilmuan yang dipelajari. Sedangkan softskil adalah kemampuan sesorang dalam mengelola dirinya sendiri maupun orang lain. didalam softskill ini sendiri ada beberapa hal yang dikuasai oleh seseorang diantaranya kemampuan dalam berkomunikasi, membangun kerjasama yang baik, kemampuan memotivasi, leadership skill, kemampuan berkomunikasi didepan public dan juga kemampuan dalam mengontrol dirinya sendiri, bagaimana mereka mampu bertanggung jawab atas amanah yang diemban, berlaku adil, jujur, kemampuan memecahkan masalah dan masih banyak lagi. Dengan menguasai kedua skill tersebut pemuda akan berusaha mengembangkan diri mereka, menunjukan kinerja yang terbaik untuk menyongsong AEC.  
Kaitanya dengan adanya ASEAN Economic Community ini, generasi muda harus mampu mengembangkan potensi yang mereka miliki. Salah satu kemampuan yang harus dikembangkan adalah penguasaan dan kecakapan dalam berbahasa asing, terutama bahasa inggris yang merupakan bahasa internasional. Mengeapa diperlukan penguasaan bahasa asing? Karena dalam ASEAN Economic Community akan terjadi siklus pasar bebas dimana produk-produk maupun jasa dari Negara-negara yang tergabung dalam ASEAN Economic Community akan bebas keluar masuk ke Negara – Negara di kawasan Asia Tenggara. Tak hanya barang dan jasa saja yang bebas keluar masuk Negara – Negara yang tergabung dalam AEC, namun juga masalah ketenagakerjaan. Tenaga kerja dari Indonesia akan bebas keluar masuk ke Negara di kawasan Asia Tenggara begitupun tenaga kerja dari Negara di kawasan Asia Tenggara akan bebas keluar masuk ke Indonesia. Oleh sebab itu, sangatlah diperlukan kecakapan dalam berbahasa asing untuk menjalin komunikasi dan kerjasama yang baik.
Tak hanya kemampuan dalam berbahasa asing saja, pemuda juga dituntut untuk mampu menguasai berbagai bidang keilmuan serta pengaplikasianya kedalam kehidupan. Pemuda sebagai the Agents of Changes (agen perubahan) harus mampu membawa perubahan menuju indonesia yang lebih maju terutama dalam menghadapi AEC ini. Dengan semangat yang membara serta daya kreativitas  dan inovasi yang terus berkembang, maka sangat mungkin bagi Indonesia untuk siap menghadapi ASEAN Economic Community. Selain itu, ada satu hal lagi yang harus menjadi perhatian bagi pemuada Indonesia. Yakni Culture (Budaya). budaya yang dimaksudkan disini adalah budaya disiplin dan menghargai waktu. Jika kita melihat realita saat ini, waktu begitu mudah dipermainkan. Sering kali kita mengenal yang namanya jam karet. Tidak on time, waktu molor, secara otomatis hal tersebut akan mempengaruhi kinerja kita apalagi dalam kanca AEC ini, pemuda tidak hanya dituntut untuk bisa menguasai bidang keilmuan namun juga profesionalitas kerja yang tinggi. Maka, transformasi budaya sangat diperlukan yakni budaya Indonesia yang lebih disiplin dan professional. Dengan deminikan, Indonesia akan lebih siap menghadapi tantangan global di era Masyarakat Ekonomi ASEAN serta mampu bersaing dengan pesaing dari luar.

Sejauh ini, pemerintah sudah banyak ikut andil dalam memfasilitasi aspirasi pemuda Indonesia. Terutama dikalangan mahasiswa, pmerintah menggagas program-program yang mampu menstimulus para generasi pemuda untuk berpikir creative dan innovative. Salah satu program-program tersebut diantaranya ada PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa) dan PMW (Program Mahasiswa Wirausaha). PKM sendiri merupakan salah satu upaya pemerintah khususnya dari direktorat perguruan tinggi (DIKTI) untuk meningkatkan mutu para pemuda indonesia khususnya mahasiswa. PKM dikembangkan untuk mengantarkan mahasiswa yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan secara akademik saja, namun juga mampu mengimplementasikan ilmu pengetahuan dengan ide-ide yang kreativitas dan inovatif dalam rangka mempersiapkan diri agar mampu bersaing di era masyarakat ekonomi asean ini dimana para pemuda dituntut untuk creative dan inovatif agar tidak tertinggal oleh pesaing-pesaing dari Negara lain. sedangkan untuk PMW (Program Mahasiswa Wirausaha) sendiri bertujuan untuk memberikan bekal ilmu pengetahuan, keterampilan dan jiwa wirausaha serta mengubah mindset para mahasiswa dari pencari kerja (Job seeker) menjadi pencipta lapangan pekerjaan (Job Creator) serta menjadi calon pengusaha yang tangguh dan sukses dalam menghadapi persaingan global. masih banyak lagi program pemerintah yang mampu mendorong kreatifitas mahasiswa demi kesiapan Indonesia menghadapi AEC. Dengan adanya program-program tersebut maka mahasiswa akan saling berkompetisi menunjukan kreativitas terbaik mereka sehingga kemdian dapat menjadi bekal untuk menghadapi Economic Asean Community.

Rabu, 29 April 2015

Festival Buku

Festival Buku dengan tema ‘Saya Suka Baca’ telah diselenggarakan oleh Universita Brawijaya Malang bekerjasama dengan UB Press kemarin tanggal 28 April 2015. Serangkaian acara Festival buku ini meliputi berbagai lomba yang diikuti oleh baik mahasiswa, Staff maupun dosen dari Universitas Brawijaya.  Adapun lomba yang diompetisikan adalah lomba menulis dengan tema Brawijaya menuju daya saing asia, lomba Brawijaya Membaca, dan UB digital Ambassador. Acara ini diselenggarakan di gedung Samantha Krida Universitas Brawijaya dan acara puncak dari serangkaian acara ini adalah talkshow dengan bintang tamu Dewi ‘Dee’ Lestari yang merupakan salah satu  penulis buku taernama di Indonesia. Adapun karya ‘Dee’ sapaan akrab Dewi Lestari adalah Novel-novel yang bergenre fiksi seperti novel Supernova, Perahu Kertas, Filosofi Kopi, dan beberapa dari novel karya dee tersebut diangkat menjadi sebuah film layar lebar. Dalam kesempatan tersebut, dee menyampaikan kegemaran menullisnya sudah tumbuh ketika ia masih kecil. Ia sering mengikuti berbagai lomba menulis namun tak semua tulisanya memenangkan kompetisi, beberapa tulisanya juga sempat ditolak untuk dimuat namun tak menyulutkan mimpinya untuk terus berkarya. Bagi dee, menulis adalah kepuasan. Ia menulis karena didorong oleh kekuatan dalam dirinya sendiri dan ide yang akan ia tuliskan. Ketika dia menemukan suatu topic yang unik, maka dia berjanji pada dirinya sendiri untuk menginterpretasikan topic tersebut kedalam tulisan.  Dee juga berbagi tips bagaimana menulis yang baik itu apalagi sebagai seorang pemula, yakni dengan Tekun berlatih, menulis hal yang diminati , dan deadline. Ketiga hal tersebut merupakan kunci dalam menciptakan karya dalam sebuah tulisan.

Rabu, 15 April 2015

SCTV Goes to Campus

Memasuki hari kedua di kota malang, SCTV Goes to Campus (SGTC) kembali meramaikan Gedung Samantha Krida Universitas Brawijaya dengan agenda kuliah umum dan talkshow Para mahasiswa sangat antusias mengikuti rangakain acara sgtc ini. Mereka tak hanya berasal dari Universitas Brawijaya saja namun juga dari kampus-kampus lain yang ada di jawa timur. 


Mereka rela mengantri panjang agar bisa masuk ke gedung Samantha krida untuk mengikuti acara Talkshow yang akan dipandu oleh yang host kondang liputan 6 senandung Nacita dan David rizal.  David Rizal sang presenter tampan ini ternyata dulu juga merupakan finalis juara  presenter contest yang diadakan oleh SCTV Goes to Campus tahun 2012 yang diadakan di Surabaya waktu itu.  acara dibuka dengan tarian tradisional oleh mahasiswa FISIP UB dilanjutkan dengan lomba presenter babak penyisihan dari lima belas peserta yang lolos penyaringan pada tahap satu tanggal 13 april, kelima belas finalis tersebut tak hanya berasal dari Universitas Brawijaya saja, namun ada yang dari kampus lain seperti UNAIR dan STTP malang. Para peserta membawakan penampilan terbaik mereka dan bergaya lagaknya seorang reporter yang sedang bertugas meliput suatu peristiwa dilapang dihadapan 3 juri yang handal dalam bidangnya. Ketiga juri tersebut adalah Retno Pangesti yang merupakan presenter Liputan 6. Kemudian pimpinan HRD, dan pimpinan redaksi liputan 6. Setelah semua kontestan tampil. Acara dilanjut dengan Talkshow dengan Guestnya kali ini adalah Bapak Ilham Habibie. Beliau merupakan putra sulung mantan presiden Bapak BJ Habibie. Dalam kesempatan kali ini beliau menyampaikan terkait pembuatan pesawat R80 yang akan segera diluncurkan. para mahasiswapun antusisas beberapa dari mereka melontarkan pertanyaan terkait dengan apa yang telah disampaikan pak ilham habibie. 

Acara diakhiri dengan pengumuman pemenang juara satu, dua dan tiga lomba news presenter. Juara pertama mendapatkan hadiah senilai 7 juta rupiah, juara dua 5 juta rupiah dan juara 3 mandapatkan 2,5 juta rupiah dan para pemenang berkesempatan juga untu magang di SCTV. 
Pemandangan unik terlihat ketika acara telah usai. Para  Mahasiswa berjejal-jejal untuk bisa sekedar berfoto dengan bintang sang idola. Pak ilham habibi selaku guest pada acara kali ini terlihat kualahan memenuhi permintaan para mahasiswa yang ingin berfoto dengan beliau. Pun dengan Presenter liputan 6 SCTV seperi senandung Nacita dan Retno Pangesti. Meskipun demikian mereka tetap memberikan senyum ramah untuk para penggemarnya.













 Salam SCTV satu untuk semua.. J